Home arrow Home
Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Print
Written by Cyber Muslim Salafy   
Syaikh  Muhammad bin Abdul Wahhab hidup di tengah-tengah keluarga yang dikenal dengan nama keluarga Musyarraf (Ali Musyarraf), di mana Ali Musyarraf ini cabang atau bagian dari Kabilah Tamim yang terkenal. Sedangkan Musyarraf adalah kakek beliau yang ke-9 menurut riwayar yang rajih. Dengan demikian nasab beliau adlaah Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin Ahmad bin Rasyid bin Buraid bin Muhammad bin Buraid bin Musyarraf.
 

Keadaan  umat di Najd pada masa sebelum beliau

1. Keadaan sosial Politik di Najd Kala itu

Mayoritas  dari penduduk Najd kala itu terdiri dari kabilah-kabilah Arab yang dikenal akan nasabnya, dan para pendatang yang berdatangan untuk tinggal di Najd hanyalah minoritas saja.

Waktu itu sisi pandang masyarakat Najd terhadap seseotrang tergantung pada nasab yang dia miliki. Hal ini sangat menyolok sekali terutama dalam urusan perkawinan, lowongan mendapatkan pekerjaan dan lain sebagainya. Masyarakat Najd terbagi menjadi dua kelompok atao dua golongan. Hadhari dan Badawi (Badui), meskipun didapati perubahan sifat atau ciri pada sebagian penduduk. Yang demikian itu menimbulkan kesulitan bagi kita untuk menggolongkan kelompok yang ketiga ini, karena mereka itu bukan Badui murni dan juga  tidak Hadhari murni.

Orang-orang Badui merasa bangga atas diri mereka dan kehidupan padang pasirnya. Mereka merasa bahwa orang-orang Hadhari hina di hadapan mereka. Penunjang kehidupan ekonomi mereka adalah kekayaan binatang, dan yang paling berharga bagi mereka di antara binatang-binatang yang ada adalah  unta. Dan kebetulan daerah Najd adalah daerah yang kaya akan unta sehingga tidak aneh kalau Najd  biasa disebut dengan Ummul Ibil.

Adapun orang-orang Hadhari (orang-orang kota) memiliki pandangan yang berbeda dengan orang-orang Badui, yang mana sebagian mereka berpendapatbahwa sifat kejantanan yang ada pada orang-orang Hadhari atau pun yang ada pada orang-orang Badui berada pada garis yang sama, sebagian yang  lain berpendapat bahwa orang-orang Badui harus diperlakukan dengan kekerasan, karena dengan cara demikian mereka bisa menjadi baik.

Adapun penunjang kehidupan mereka adalah bertani. Sedangkan perdagangan adalah satu-satunya  penunjang kehidupan yang ada atau dimiliki oleh orang-orang Badui maupun orang-orang Hadhari.

Mengenai hal kepemimpinan, sangatlah jauh berbeda antara orang-orang Badui dengan orang-orang adhari. Di mana seorang pemimpin yang ada di kalangan orang-orang Badui haruslah memenuhi kriteria seorang pemimpin, misalnya memiliki derajad lebih dari yang lain, pemberani dan memiliki pandangan serta gagasan yang jitu. Cara-cara mereka ini lebih mirip  dengan sistem demokrat. Adapun orang-orang Hadhari lebih cenderung pemilihan pemimpin mereka jatuh ke tangan orang-orang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan, cara-caranya pun sudah banyak dicampuri dengan kelicikan dan tipu muslihat demi teraihnya kepemimpinan tersebut.

2. Keadaan Keagamaan di Najd waktu itu

Penduduk negeri Najd sebelum adanya dakwah yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab keadaannya menyedihkan. Keadaan yang apabila sorang mukmin menyaksikannya tidak akan ridla selama-lamanya. Syirik (persekutuan) terhadap Allah subhanahu wa ta'ala tumbuh dengan suburnya, baik syirik besar maupun syirik kecil. Sampai-sampai kubah, pepohonan, bebatuan, gua dan orang-orang yang dianggap sebagai wali pun disembah sebagaimana layaknya Allah subhanahu wa ta'ala. Penduduk Njad kala itu telah terpesona dengan kehidupan dunia dan syahwat. Sehingga pintu-pintu kesyirikan terbuka lebar untuk mereka. Marja' (sandaran) mereka kepada ahli sihir dan para dukun, sehingga negeri Najd terkenal akan hal itu. Bahkan Makkah, Madinah dan Yaman menjadi basis kemusyrikan kala itu. Maka Allah subhanahu wa ta'ala  menyelamatkan umat islam ini dengan dilahirkannya seorang mujaddid besar, penegak panji-panji tauhid sdan penyampai kebenaran yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya. Dialah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang kelak berjuang mati-matian dalam rangka tegaknya tauhidullah dan menebas habis setia yang berbau syirik terhadap Allah subhanahu wa ta'ala.

Nasab dan Kelahiran Beliau

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hidup di tengah-tengah keluarga yang dikenal dengan  nama keluarga Musyarraf (Ali Musyarraf), di mana Ali Musyarraf ini cabang atau bagian dari Kabilah Tamim yang terkenal. Sedangkan Musyarraf adalah kakek beliau yang ke-9 menurut riwayar yang rajih. Dengan demikian nasab beliau adalah Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin Ahmad bin Rasyid bin Buraid bin Muhammad bin Buraid bin Musyarraf.

Beliau dilahirkan  di negeri Uyainah pada tahun 1115 H. Daerah Uyainah ini terletak di wilayah Yamamah yang masih termasuk bagian dari Najd. Letaknya berada di bagian barat laut dari kota Riyadh yang jaraknya (jarak antara Uyainah dan Riyadh) lebih kurang 70 km.

Perjalanan Beliau Dalam Menuntut Ilmu

Ibnu Ghannam berkata: Muhammad bin Abdul Wahhab telah menampakkan semangat thalabul-ilmi-nya sejak usia belia. Beliau memiliki kebiasaan yang sangat berbeda dengan anak-anak sebayanya. Beliau tidak suka dengan main-main dan perbuatan yang sia-sia. Beliau mulai thalabul-ilmi dengan mendalami al-Qur'anul Karim, sehingga tidak aneh kalau beliau sudah hafal ketika berumur 10 tahun. Yang demikian itu terjadi pada diri beliau dikarenakan banyak faktor yang mendukungnya. Di antaranya adalah semangat beliau yang sangat menggebu-gebu dalam menuntut ilmu, juga keadaan lingkungan keluarga yang benar-benar mendorong dan memicu beliau untuk terus-menerus menuntut ilmu. Dan Syaikh Abdul Wahhab-lah guru sekaligus orang tua beliau yang pertama-tama mencetak kepribadian beliau.

Sampai-sampai ketika ayah beliau Syaikh Abdul Wahhab menulis surat kepada seorang temannya mengatakan (dalam surat tsb.): Sesungguhnya dia (Muhammad bin Abdul Wahhab) memiliki pemahaman yang bagus, kalau seandainya dia belajar selama satu tahun niscaya dia akan hafal, mapan serta menguasai apa yang dia pelajari. Aku tahu bahwaanya dia telah ihtilam (baligh) pada usia dua belas tahun. Dan aku melihatnya sudah pantas untuk menjadi imam, maka aku jadikan dia sebagai Imam shalat berjama'ah dikarenakan ma'rifah dan ilmunya tentang ahkam. Dan pada usia balighnya itulah aku nikahkan dia. Kemudian setelah nikah, dia memiinta izin padaku untuk berhaji, maka aku penuhi permintaannya dan aku berikan segala bantuan demi tercapai tujannya tersebut. Lalu berangkatlah dia menunaikan ibadah haji, salah satu rukun dari rukun-rukun Islam.

Setelah berhaji beliau belajar dengan para ulama Haramain (Makkah dan Madinah) selama  lebih kurang dua bulan. Kemudian setelah itu kembali lagi ke daerah Uyainah.  Setelah pulang dari berhaji beliau terus memacu belajar.  Beliau belajar  dari ayah yang sekaligus sebagai guru pelajaran Fiqh Hambali, tafsir, hadits  dan tauhid.

Tidak  berapa lama kemudian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menunaikan ibadah haji  untuk yang kedua kalinya. Kemudian menuntut ilmu dari ulama Haramain, khususnya  para ulama Madinah al-Munawwarah. Di Madinah beliau belajar diin dengan serius,  dan Madinah saat itu adalah tempat berkumpulnya ulama dunia. Di antara guru  yang paling beliau kagumi dan senangi adalah Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin  Saif an-Najdi dan Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi. Setelah beliau merasa cukup  untuk menuntut ilmu dari para ulama Madinah al-Munawwarah ini maka beliau kembali  lagi ke kampung halaman, Uyainah.

Setahun  kemudian beliau memulai berkelana thalabul ilmi menuju daerah Iraq dan Ahsaa'.  Kota Damaskus saat itu sebuah kota yang sarat akan kegiatan keislaman. Di sana  terdapat sebuah madrasah yang digalakkan padanya keilmuan tentang madzab Hambali  dan kegiatan-kegiatan yang menunjang keilmuan tersebut. Oleh karena itu negeri  yang pertama kali dicita-citakannya untuk menuntut ilmu adalah Syam. Di negeri  itulah Damaskus berada. Namun dikarenakan perjalanan dari Najd menuju Damaskus  secara langsung sangat sulit, maka Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab pergi menuju  Bashrah (Iraq), pada saat itu beliau berkeyakinan bahwa perjalanan dari Bashrah  menuju  Damaskus sangatlah mudah.

Setelah  di Bashrah, ternyata apa yang beliiau yakini sementara ini tidak sesuai dengan  kenyataan yang sebenarnya. Perjalanan dari Bashrah menuju Damaskus yang semula  dianggap mudah ternyata sulit. Maka bertekadlah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab  untuk tinggal di Bashrah. Beliau belajar Fiqh dan Hadits dari sejumlah ulama  yang berada di kota bashrah tersebut -hanya saja dari nara sumber yang  ada- tidak menyebutkan nama guru-guru beliau yang ada di kota tersebut kecuali  hanya seorang saja yaitu Syaikh Muhammad al-Majmu'i. Di samping ilmu fiqh dan  hadits beliau juga mendalami ilmu Qawaidul-Arabiyyah sehingga beliau betul-betul  menguasainya. Bahkan selama tinggal di Bashrah beliau sempat mengarang beberapa  kitab yang berkenaan dengan Qawaidul Lughah al-Arabiyyah sehingga beliau betul-betul  menguasainya. Bahkan selama tinggal di Bashrah beliau sempat mengarang beberapa  kitab yang berkenaan dengan Qawaidul Lughah al-Arabiyyah.

Ternyata tidak semua orang yang ada di Bashrah senang terhadap Syaikh Muhammad  bin Abdul Wahhab dan ulama-ulama yang sepemikiran dengan beliau, khususnya para  ulama suu` yang ada di Bashrah, dimana mereka tidak henti-hentinya menentang  dan memusuhi beliau. Nah, dikarenakan ulah dan permusuhan mereka terhadap Syaikh  Muhammad bi Abdul Wahhab itulah akhirnya beliau dengan berat hati meninggalkan  nageri Bashrah, tempat beliau belajar dan dakwah saat itu.

Kemudian beliau pergi menuju suatu tempat bernama az_Zubair. Setelah perjalanan  beberapa saat disana, beliau melanjutkan perjalanan menuju Al-Ahsaa`. Didaerah  tersebut beliau melanjutkan studinya dengan belajar ilmu dien dari para ulama  al-Ahsaa`. Diantara guru-guru beliau yang ada di al-Ahsaa` tersebut adalah Syaikh  Abdullah bin Fairuz, Syaikh Abdullah bin Abdul Latif serta Syaikh Muhammad bin  Afaliq. Dan memang, Ahsaa` saat itu merupakan gudangnya ilmu sehingga orang-orang  Nejd dan orang-orang sebelah timur jazirah Arab berdatangan ke Ahsaa` untuk  menuntut ilmu di sana.

Kemudian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab melanjutkan kelana Thalabul Ilmi-nya  ke daerah Haryamala dan tiba di sana pada tahun 1151 H. Di mana kebetulan ayah  beliau yang tadinya menjadi qadhi di Uyainah telah pindah ke daerah tersebut.  Maka berkumpulah beliau dengan ayahnya di sana.

Tapi baru dua tahun bertemu dan berkumpul dengan orang tua beliau. Ayah beliau  Syaikh Abdul Wahhab bin Sulaiman meninggal dunia, tepatnya pada tahun 1153 H.  Sepeninggal ayahnya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menggantikan ayahnya dalam  melaksanakan aktivitasnya di negeri Haryamala tersebut. Dalam waktu yang cukup  singkat nama beliau sudah mulai tersohor. sehingga orang-orang pun berdatangan  ke Haryamala untuk menuntut ilmu dari beliau. bahkan para pemimpin negeri di  sekitar Haryamala pun menerima ajakan dan dakwah beliau.

Dua tahun kemudian, atas ajakan Amir negeri Uyainah, Utman bin Ma`mar, beliau  pindah ke negeri kelahirannya Uyainah.