Prinsip Jalan Hidup dan Dakwah Ahlus Sunnah wal Jama`ah
Written by Admin   

Pendahuluan

Jika kita mencoba untuk membuka kembali dan mempelajari perkembangan dakwah dari zaman ke zaman, maka kita akan dapat menangkap adanya suatu fenomena yang menarik. Adalah suatu kenyataan yang tidak mungkin untuk dipungkiri bahwa ditengah derasnya arus pemikiran dan kuatnya gejolak-gejolak bid'ah dan khurafat serta takhayul dan kesyirikan yang ditebarkanoleh tokoh-tokoh kesesatan , du-at ala abwaabi jahannam, ditengah itu semua, dengan rahmat Allah panji-panji Ahlus Sunnah wal Jamaah tetap berkibar dengan gagahnya. Bahkan sebaliknya, dakwah mereka justru semakin kokoh dan kuat.

 

Karena itu, ketika dakwah Ahlus Sunnah wal Jama`ah menguat, atau nama Ahlus Sunnah wal Jama`ah dipandang dapat memberikan keuntungan dan manfaat, maka kita akan menemukan orang-orang yang mencaplok nama tersebut untuk menjadikan dagangan mereka laris. Orang-orang tersebut sepertinya lupa bahwa Ahlus Sunnah wal Jama`ah bukanlah hanya sekedar pemulas bibir, atau merek dagang yang digunakan sekedar untuk menaikkan oplah dan permintaan, atau stempel cap untuk melegalisir meskipun perkara tersebut adalah suatu kemungkaran.

Sesungguhnya hakekat dari. Ahlus Sunnah wal Jama`ah adalah sifat-sifat yang disebutkan di dalam Al-Quran dan hadits-hadits yang shohih. Ia adalah sifat dari hamba-hamba Allah yang memiliki ilmu yang benar dan amal yang sholeh dengan ketaatan yang didorong oleh rasa kecintaan serta ittiba' yang penuh dengan kejujuran. Dengan demikian, benar tidaknya pengakuan seseorang tergantung kepada ada tidaknya sifat-sifat tersebut pada dirinya.

Jika hal ini telah kita pahami, maka betapa celakanya orang yang mengaku sebagai seorang Sunni, yang kemudian dengan liciknya ia mampu mengelabui pengikut dan pengagum-pengagumnya. Sehngga jadilah ia seorang tokoh yang dielu-elukan dan setiap perkataannya dijadikan ukuran mutlak suatu kebenaran. Meskipun ia sebenarnya -Naudzu billahi min dzalika- amat jauh dan bertentangan dengan sifat yang disebutkan sebagai sifat-sifat Ahlus Sunnah wal Jama`ah. Kita berkeyakinan bahwa suatu hari nanti semua kebanggaan, kepuasan, dan kesenangannya akan berbalik menjadi kehinaan, siksaan, dan kebinasaan yaitu pada hari akhir. Benarlah perkataan seorang penyair:

Barang siapa mengaku-aku sesuatu yang tidak dilakukannya

Ia akan dipermalukan ketika hari ujian datang menjelang.

Namun demikian, di sana ada segolongan besar dari kaum muslimin yang berusaha mencari kebenaran bahkan bersedia untuk membela dan memperjuangkannya. Hanya saja sebagian diantara mereka telah terjerumus kedalam kubangan kelompok-kelompok yang sesat,atau terjatuh kedalam tangan para penyamun yang mencengkeram mereka dengan kuku talbis (mencampurkan antara hak dan batil) dan syubhat (dalih yang disamarkan sehingga disangka sebuah dalil) atau bahkan mungkin tahdid (ancaman serta teror baik secara mental maupun secara fisik). Terkadang juga hanya karena terlalu berprasangka baik kepada para ustadz dan guru-guru mereka. Padahal mereka sendiri pada hakekatnya sangat mendambakan kebenaran . Mereka amatlah rindu dekapan Sunnah, ingin merasakan teduhnya ittiba, dan mencicipi manisnya iman. Semoga Allah  membukakan pintu-pintu hidayah-Nya kepada kita semuanya  Amiin yaa Rabbal Aalamin.

Karenanya pada kesempatan ini kami paparkan sebagian dari prinsip-prinsip ahlus Sunnah wal Jamaah yang kami sarikan dari kitab Silsilah Fatawa Syar'iyah yang ditulis oleh Syaikh Abul Hasan Musthofa bin Ismail As-Sulaimanie Al-Ma'ribie dengan melakukan perubahan-perubahan yang kami anggap perlu sesuai dengan  kondisi yang ada di negara kita. Dan jika ini adalah suatu kebenaran maka  itu semata-mata datangnya dari Allah, dan jika ia merupakan suatu kesalahan  maka Allah dan Rasul-Nya terlepas dari kesalahan itu. Semoga kita dijauhkan  dari orang-orang yang hanya pandai berkata-kata namun tidak beramal atau bahkan  amalnya tidak sesuai dengan apa yang diucapkannya.

  1. Dakwah Ahlus Sunnah wal Jama`ah adalah dakwah yang tegak di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah menurut manhaj para Salafus shalih dari kalangan Sahabat, Tabi`in dan para ulama` serta orang- orang yang mengikuti mereka.
  2. Ahlus Sunnah wal Jama`ah berkeyakinan bahwa berdo`a kepada orang-orang mati, beristighatsah kepada mereka, menyembelih dan bernazar untuk mereka, juga meminta pertolongan kepada orang-orang yang hidup atas perkara-perkara yang merupakan kekhususan Allah adalah perbuatan syirik, yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam, maka pelakunya wajib bertaubat atas perbuatannya itu dan wajib membenahi aqidah tauhidnya.
  3. Keyakinan akan kemampuan jimat-jimat dan sejenisnya untuk mendatangkan manfaat dan menolak mudharat adalah perbuatan syirik. Juga mendatangi tukang-tukang sihir, dukun, dan tukang-tukang ramal. Membenarkan mereka adalah kekufuran, sebab itu berarti membenarkan bahwa mereka mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Jika hanya sekedar datang tanpa membenarkan ucapan-ucapan mereka, maka ini adalah sebuah kebodohan yang wajib dijauhi, sebab hal ini merupakan wasilah kepada dosa syirik. Kita berlindung kepada Allah dari  bahayanya.
  4. Ahlus Sunnah wal Jama`ah meyakini adanya karomah-karomah para wali tanpa meyakini bahwa hal tersebut merupakan bagian dari kekhususan ilahiyyah. Ahlus Sunnah wal Jama`ah membedakan antara karomah-karomah para wali dan kedustaan para dajjal (pendusta). Para wali menegakkan perintah Allah berbeda dengan tukang sihir dan sejenisnya.
  5. Ahlus Sunnah wal Jama`ah mencintai seluruh sahabat dan tidak mencampuri perselisihan yang terjadi diantara mereka, sebab apa yang terjadi itu merupakan fitnah. Semoga Allah menjaga kita dari fitnah yang seperti itu. Ahlus Sunnah wal Jama`ah menjaga hati dan lisan mereka agar tidak hanyut membicarakan fitnah tersebut. Menurut Ahlus Sunnah wal Jama`ah, para sahabat memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Sahabat yang paling utama adalah Abu Bakar kemudian Umar menurut kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jama`ah kemudian Utsman lalu Ali menurut pendapat yang terpilih.
  6. Menurut Ahlus Sunnah wal Jama`ah, orang yang mencela para sahabat berarti telah mengikuti ahlul bid`ah dan hatinya telah kotor, sebab mencintai para sahabat serta menempatkan mereka sesuai dengan kedudukan mereka masing-masing merupakan suatu kewajiban.
  7. Ahlus Sunnah wal Jama`ah tidak menerima hadits apapun yang disandarkan kepada Rasulullah kecuali setelah mengetahui bahwa hadits tersebut adalah shahih. Ahlus Sunnah wal Jama`ah berpendapat bahwa hadits yang munkar dan palsu sangat besar peranannya dalam menyuburkan kebid`ahan.
  8. Dakwah Ahlus Sunnah wal Jama`ah tegak diatas tashfiyah (pemurnian) aqidah, kaidah-kaidah ilmiyah dan amaliyah, dan lain sebagainya. Kemudian setelah itu tarbiyah (pembinaan) diatas ajaran Islam yang murni tersebut.
  9. Ahlus Sunnah wal Jama`ah tidak mengkafirkan seorang muslim karena dosa besar yang dilakukannya. Ahlus Sunnah wal Jama`ah selalu mengharap kabaikan bagi orang-orang yang shalih dan merisaukan nasib orang-orang yang berbuat jahat. Ahlus Sunnah wal Jama`ah tidak menentukan tempat bagi seorangpun di sorga atau di neraka. Ahlus Sunnah wal Jama`ah menyolatkan jenazah setiap muslim serta memohon ampunan baginya selama tidak terjatuh ke dalam syirik besar (syirik yang mengeluarkan dari agama).
  10. Ahlus Sunnah wal Jama`ah selalu memberikan nasehat dengan cara yang sebaik-baiknya jika diterima maka itu adalah karunia dari Allah bagi seluruhnya, tetapi jika ditolak maka mereka bersabar dan berdo`a kepada Allah agar memberikan hidayah kepada semuanya. Namun jika ada orang yang menyeru kepada kesesatan maka Ahlus Sunnah wal Jama`ah memperingatkan umat dari orang tersebut setelah terlebih dahulu menasehati dan memberikan penjelasan kepadanya.
  11. Ahlus Sunnah wal Jama`ah berkeyakinan bahwa orang yang mengkafirkan pelaku-pelaku maksiat hanya semata-mata karena kemaksiatannya atau karena menyelisihi pemahamannya maka ia adalah seorang ahlul bid`ah yang sesat dan merupakan cikal bakal kelompok Khawarij.
  12. Menurut Ahlus Sunnah wal Jama`ah syirik itu terbagi dua, yaitu syirik besar dan syirik kecil. Demikian pula kekufuran terbagi dua, yaitu kufur i'tiqodi dan kufur amali, sama halnya dengan kemunafikan yang terbagi dua, yaitu nifaq i'tiqadi dan nifaq amali. Perbuatan-perbuatan tercela seperti kezaliman, kefasikan, dan yang lainnya juga terbagi dua, yaitu besar dan kecil. Yang besar mengeluarkan pelakunya dari Islam sedangkan yang kecil tidak. Menurut Ahlus Sunnah wal Jama`ah sebagian kufur amali dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam, meskipun secara umum istilah kufur amali digunakan para ulama untuk perbuatan kufur yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam.
  13. Menurut Ahlus Sunnah wal Jama`ah, barang siapa yang bertaubat dari dosanya dengan taubat yang benar, maka Allah akan mengampuninya. Adapun jika dia menemui Allah dalam keadaan berdosa; selama itu bukan dosa syirik, maka dia berada dibawah kehendak Allah.  Jika Allah menghendaki untuk mengadzabnya, maka ia akan diadzab, dan jika Allah menghendaki untuk mengampuninya maka ia akan diampuni.
  14. Menurut Ahlus Sunnah wal Jama`ah, Islam melarang perpecahan kaum muslimin menjadi jama`ah-jama`ah, kelompok-kelompok atau golongan-golongan, bahkan Islam mengharuskan seluruh kaum muslimin untuk bertaqwa kepada Allah dan bersatu di atas manhaj Salafus Shalih, bukan di atas pemahaman si A dan si B.
  15. Ahlus Sunnah wal Jama`ah membenarkan adanya saling tolong menolong dengan sesama muslim dengan syarat dakwah Ahlus Sunah wal Jama`ah tidak terganggu pada saat itu ataupun di masa yang akan datang nantinya.
  16. Ahlus Sunnah wal Jama`ah melihat adanya suatu pertanda buruk dari fenomena bermunculannya kelompok-kelompok dakwah yang memiliki metoda yang beraneka ragam, ruwet dan kacau. Oleh kerena itu, wajib bagi para pencari kebenaran untuk sadar akan hal ini. Dan kesadaran itu, hanya bisa diperoleh dengan ilmu, kedewasaan berfikir, dan menghindari kebodohan, kedunguan, sikap ekstrim, dan sikap membabi buta terhadap orang-orang yang menyelisihinya.
  17. Ahlus Sunnah wal Jama`ah menyeru kepada persatuan dan mengikuti sunnah Rasulullah. Keduanya sama urgennya di dalam dakwah ini. Ahlus Sunnah wal Jama`ah tidak akan menyerukan persatuan di atas kesesatan. Ahlus Sunnah wal Jama`ah tidak mengajak kepada sesuatu yang bisa mencerai beraikan kaum muslimin dan melemahkan kekuatan mereka sehingga membuat gembira musuh-musuh mereka. Tetapi Ahlus Sunnah wal Jama`ah menyeru kepada persatuan, kesatuan dan kerukunan di atas sunnah Rasulullah dan diatas kebenaran yang terang. Apabila bertabrakan dua hal ini, yaitu antara urgensi persatuan dan sunnah Rasulullah, maka terkadang Ahlus Sunnah wal Jama`ah mendahulukan urgensi persatuan dan kadangkala mendahulukan urgensi berpegang kepada sunnah Rasulullah. Hal ini disesuaikan dengan situasi, kondisi dan keadaan serta dengan memperhitungkan maslahat dan mafsadat berdasarkan kaidah-kaidah yang dibangun oleh para ulama baik yang dahulu maupun yang sekarang dan masing-masing kondisi punya sandarannya di dalam As-Sunnah.
  18. Ahlus Sunnah wal Jama`ah mewajibkan untuk mentaati penguasa dalam segala hal baik suka maupun terpaksa, kecuali di dalam kemungkaran atau kemaksiatan kepada Allah.
  19. Ahlus Sunnah wal Jama`ah tidak membenarkan pembangkangan terhadap penguasa selama mereka masih muslim, tetapi yang diibenarkan adalah memberikan nasehat dan penjelasan dengan penuh kesabaran dan dengan berdo`a agar Allah memperbaiki urusan-urusan kaum muslimin. Adapun menyiarkan dan menyebarkan kesalahan-kesalahan penguasa (walaupun mereka benar-benar salah) diatas mimbar-mimbar serta menghasut masyarakat baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan maka hal ini hanya akan menimbulkan fitnah yang merugikan dakwah Ahlus Sunnah wal Jama`ah itu sendiri. Oknum pelakunya tidak mengikuti kebenaran dan tidak pula menghilangkan kemungkaran serta tidak mengetahui realita dan telah merugikan dakwah. Tindakannya itu justru malah menimbulkan fitnah yang disenangi musuh-musuh Islam.
  20. Menurut Ahlus Sunnah wal Jama`ah seorang yang mendambakan kebaikan bagi para penguasa dan kaum muslimin adalah seorang yang selalu memberi nasehat kepada mereka - walaupun pada diri penguasa itu terdapat penyimpangan - jika mereka salah, dan selalu menolong mereka jika mereka berada diatas kebenaran, selalu memaafkan mereka jika mereka bersalah, selalu menutup aib mereka dihadapan khalayak ramai, serta selalu mengingatkan mereka kepada sunnatullah, bahwa Allah akan meninggikan derajat orang yang berlaku adil dan menghinakan orang-orang yang zalim. Jika mereka sadar, maka ini adalah karunia Allah bagi kaum muslimin, tetapi jika tidak, maka kita harus bersabar, bersikap tenang dan bertaqwa serta berdo`a kepada Allah agar sungguh-sungguh menunjukkan kepada para penguasa kebenaran dan menganugerahkan kepada mereka pembantu-pembantu yang shalih, hati-hati yang bersih dan membuka pintu hati mereka untuk menerima dan melaksanakan kebenaran. Semoga Allah merahmati Fudhail bin `Iyadh yang berkata : 'Seandainya aku memiliki sebuah do`a yang mustajab, maka akan aku khususkan untuk penguasa, karena kebaikan mereka adalah kebaikan bagi negeri dan masyarakat.
  21. Menurut Ahlus Sunnah wal Jama`ah mencela, menghujat dan melaknat para penguasa di atas mimbar-mimbar bukan merupakan manhaj Salafus Shalih.
  22. Ahlus Sunnah wal Jama`ah menekankan untuk selalu bersabar terhadap kejelekan penguasa walaupun mereka bertindak sewenang-wenang. Ahlus Sunnah wal Jama`ah juga tidak mengharapkan materi dunia dari penguasa. Dan Ahlus Sunnah wal Jama`ah memandang wajib menasehati para penguasa tanpa harus menyiarkan aib, tanpa menghujat, dan tidak pula berbuat kerusakan di muka bumi.
  23. Menurut Ahlus Sunnah wal Jama`ah membelot terhadap penguasa dan menantang mereka berperang adalah sumber segala kerusakan di muka bumi sekalipun penguasa tersebut bertindak sewenang-sewenang.
  24. Menurut Ahlus Sunnah wal Jama`ah umat Islam itu bagaikan seekor burung dengan kedua sayapnya. Sayap yang satu adalah para ulama sedang sayap yang lain adalah para penguasa. Burung tersebut tidak akan sampai ke tujuan dengan selamat kecuali dengan dua sayap tersebut.Tugas para ulama adalah menjelaskan perintah-perintah Allah dan tugas para penguasa adalah memerintahkan umat untuk melaksanakannya. Jika terdapat kekurangan pada mereka (penguasa dan ulama`) maka hendaklah dimusyawarahkan untuk mencari solusi terbaik bagi kaum muslimin. Bukan dengan cara demonstrasi atau unjuk rasa, bukan pula dengan berburuk sangka kepada para ulama` atau mengintimidasi mereka atau yang lainnya.
  25. Ahlus Sunnah wal Jama`ah tidak menolak kebaikan dan kebenaran yang ada pada kelompok-kelompok yang menyelisihinya, jika itu memang suatu kabaikan dan kebenaran.
  26. Menurut Ahlus Sunnah wal Jama`ah, politik yang sesuai dengan prinsip Salafus Shalih adalah sebuah perkara yang agung di dalam agama. Memisahkan antara politik dan agama berarti telah menyimpang dari agama. Tidak akan baik suatu negeri dan masyarakatnya kecuali dengan peraturan-peraturan generasi awal umat ini, yaitu Khulafaur Rasyidin dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan sampai hari kiamat. Dakwah kepada masalah ini harus ditegakkan dengan hikmah dan pengajaran yang baik.
  27. Ahlus Sunnah wal Jama`ah memprioritaskan perkara-perkara yang terpenting, karena kewajiban yang harus dipikul amat banyak sedangkan waktu yang tersedia terbatas. Perkara yang paling utama adalah pembenahan aqidah, memberantas syubhat yang dapat menggoncangkan aqidah, dan menyatukan umat Islam di atas perkara tersebut. Kemudian berdakwah kepada nilai-nilai keutamaan dan menghindari kehinaan.
  28. Ahlus Sunnah wal Jama`ah tidak membenarkan adanya taqlid buta kepada perkataan seseorang Karena semua orang dapat diambil atau ditolak ucapannya, kecuali Rasulullah dan apa-apa yang telah benar disepakati oleh umat ini. Karena sesungguhnya umat ini tidak akan bersepakat di atas kesesatan. Ahlus Sunnah wal Jama`ah mencintai seluruh imam Ahlus Sunnah wal Jama`ah dan mengikuti mereka. Jika dalil yang kuat ada pada mereka. Ahlus Sunnah wal Jama`ah tidak mengkhususkan salah satu diantara mereka untuk diikuti dan Ahlus Sunnah wal Jama`ah selalu berusaha untuk memberantas fanatik madzhab atau fanatik golongan.
  29. Ahlus Sunnah wal Jama`ah mewajibkan umat untuk merujuk kepada ulama` sebab jika tidak demikian, maka akan terbuka pintu kesesatan dan akan terjauhkan dari hidayah. Ahlus Sunnah wal Jama`ah tidak menyeru taqlid buta dan tidak pula membenci dengan membabi buta. Umat harus sadar bahwa kedudukan mereka jauh di bawah para imam Ahlus Sunnah wal Jama`ah, maka hendaknya mereka selalu mengambil sikap tengah karena kebenaran senantiasa ada pada sikap tengah.
  30. Ahlus Sunnah wal Jama`ah memandang bahwa kaidah menimbang mashlahat dan mafsadat mempunyai batasan dan ketentuan tertentu. Banyak orang yang berusaha menggunakan kaidah ini namun mereka tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti sehingga mereka menerapkan kaidah ini dengan tidak pada tempatnya.
  31. Ahlus Sunnah wal Jama`ah menyeru kaum muslimin untuk menimba ilmu syar`i. Tapi hendaknya semua harus diraih sesuai dengan kewajiban dan kemampuan. Karena sesungguhnya umat Islam akan tetap jaya selama mereka tetap mempelajari agama mereka. Barangsiapa yang bodoh tentang agamanya, maka ia akan menjadi mangsa serigala dari golongan jin dan manusia.
  32. Ahlus Sunnah wal Jama`ah memandang bahwa kebodohan dan perpecahan adalah penyebab kelemahan dan kemunduran umat ini. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jama`ah bertekad  untuk menyebarkan ilmu yang bermanfaat di tengah-tengah umat dan Ahlus Sunnah wal Jama`ah mencegah dari bergolong-golongan dan fanatik yang tercela (yang menyebabkan terkoyaknya persatuan).
  33. Ahlus Sunnah wal Jama`ah memandang bahwa suku-suku yang ada di Indonesia seperti suku Batak, Jawa, Banjar dan lain sebagainya memiliki banyak kebaikan, seperti akhlaq yang mulia, keberanian, suka menolong, sabar, bertanggung jawab, memuliakan tamu, dan tetangga dan lain sebagainya. Akan tetapi, Ahlus Sunnah wal Jama`ah juga selalu memperingatkan mereka agar tidak berhukum dengan selain hukum Allah, seperti tidak membunuh manusia, tidak menyabot, dan tidak saling tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan, tidak melindungi ahlul bid`ah dan tidak membunuh orang yang bersalah dan lain sebagainya semata-mata hanya karena persamaan ataupun perbedaan kesukuan yang ada.
  34. Ahlus Sunnah wal Jama`ah tidak menghendaki suku-suku tersebut menjadi batu sandungan bagi pemerintah di dalam melaksanakan program-program yang bermanfaat dan positif bagi masyarakat. Sehingga menutup pintu-pintu kebajikan dan membuka pintu-pintu kejelekan. Hal yang demikian itu akan dimanfaatkan musuh-musuh mereka dengan mengarahkan mereka kepada kerusakan yang nyata sehingga terjadilah kerusakan diatas muka bumi.
  35. Ahlus Sunnah wal Jama`ah tidak mengharamkan ilmu pengetahuan umum yang bermanfaat, bahkan Ahlus Sunnah wal Jama`ah memandangnya sebagai amalan yang dibolehkan atau sunnah, bahkan terkadang hukumnya menjadi wajib bagi sebagian orang pada suatu waktu tertentu. Karena sesungguhnya urusan dunia telah dibuka seluas-luasnya bagi kita dengan syarat tidak bertentangan dengan syari`at. Rasulllah bersabda yang artinya : `` Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.``
  36. Ahlus Sunnah wal Jama`ah juga tidak mengharamkan jabatan-jabatan di dalam pemerintahan seperti pegawai negeri dan sejenisnya, dengan syarat tidak menyelisihi syari`at. Menurut Ahlus Sunnah wal Jama`ah umat Islam harus memiliki pegawai-pegawai yang cakap dibidangnya masing-masing dan Ahlus Sunnah wal Jama`ah selalu menasehati mereka agar tidak menyelisihi syari`at.
  37. Ahlus Sunnah wal Jama`ah berpendapat bahwa sarana-sarana berupa teknologi canggih yang bermanfaat bagi perkembangan dakwah pada asalnya tidak dilarang dalam syari`at.
  38. Ahlus Sunnah wal Jama`ah mengutamakan kelembutan dalam berdakwah dan dalam memberi nasehat kepada masyarakat umum, karena mereka juga menghendaki adanya kebaikan. Mereka pada dasarnya adalah aset yang berharga bagaikan tambang emas dan perak. Boleh jadi mereka lebih berguna bagi Islam dan kaum muslimin apabila Allah telah membuka hati mereka untuk menerima kebaikan.

Inilah ringkasan dari sebagian pokok-pokok dakwah Ahlus Sunnah wal Jama`ah yang kami serukan yang kami nukilkan dari perkataan para Ulama`. Ketahuilah bahwa sesungguhnya dakwah Ahlus Sunnah wal Jama`ah ibarat hujan yang senantiasa akan membawa manfaat di manapun turunnya. Dan barang siapa yang mendapatkan hidayah dari Allah untuk berpegang kepada manhaj mereka, maka dia telah mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus. Dakwah apapun yang tidak tegak di atas landasan kaidah-kaidah Ahlus Sunnah wal Jama`ah, maka hanya akan menjadi fitnah, yang menyerupai adzab kaum `Ad (kaumnya Nabi Hud).

Dan dakwah yang tidak menjadikan ilmu hadits sebagai asas dan landasannya, tidak bersandarkan kepada pemahaman para sahabat, generasi awal yang utama dan para ulama`, pada awalnya akan tampak sebagai suatu kebenaran, namun lambat laun akan nampak cacat dan celanya, dan kemudian akan berbalik menjadi fitnah bagi umat dan akan menjadi penghalang dari jalan Allah. Sebagaimana Allah memberikan permisalan dalam al-Qur`an :

Maka apakah orang yang berjalan tertelungkup di atas mukanya yang akan mendapat petunjuk, ataukah (justeru) orang yang berjalan tegak diatas jalan yang lurus (yang akan mendapat petunjuk)? (QS al-Mulk : 22).

Kami memohon kepada Allah yang Maha Agung dengan Nama-Nama-Nya yang Indah dan Sifat-Sifat-Nya yang Maha Tinggi agar menjadikan kita sebagai pembimbing dan pemberi hidayah bagi umat manusia, bukan sebagai orang yang sesat lagi menyesatkan, dan agar kita menjadi pembuka segala pintu kebajikan dan penutup seluruh pintu-pintu kejelekan. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa  atas segala sesuatu dan Maha Kuasa untuk mengabulkannya. Semoga Shalawat dan Salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik sampai datangnya hari kiamat.

Amin Ya Rabbal Alamin.

Wallahu A'lamu  Bis-Showab.