Home arrow Artikel arrow Kontroversi Kehadiran Nabi Dalam Peringatan Maulid Nabi
Kontroversi Kehadiran Nabi Dalam Peringatan Maulid Nabi Print
Written by Admin   
Friday, 28 February 2003
Di berbagai sudut desa kaum muslimin sering membaca bareng-bareng kisah kehidupan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dalam bahasa Arab –yang mayoritas mereka tidak memahami isi syair tersebut- dalam rangka memperingati maulid/kelahiran Nabi (–wiyosan, jawa). Pada bait-bait tertentu para hadirin berdiri –dengan keyakinan bahwa Rasulullah tengah hadir di majelis mereka- untuk menghormati kedatangan beliau shallallahu `alaihi wa sallam.
Namun benarkah keyakinan mereka tersebut, sesuaikah  dengan aqidah Islam yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  sendiri? Silahkan menyimak tanya jawab dibawah ini.
 
Soal I: Sebagian orang berkeyakinan bahwa Nabi shallallahu `alaihi wa sallam menghadiri peringatan-peringatan maulid yang ada, sehingga karena itu para hadirin berdiri menghormati kedatangannya. Dibenarkankah hal ini?
 
Jawab: Keyakinan orang yang menyangka bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam  menghadiri perayaan maulid tersebut didustakan oleh Al-Qur`an, karena Allah subhanahu wa ta`ala berfirman kepada Nabinya yang mulia:
Sesungguhnya kamu akan mati dan merekapun akan mati. Kemudian nanti di hari kiamat kalian akan berbantah-bantahan dihadapan Rab kalian.[1]
Bangkitnya jasad dari kubur hanyalah terjadi ketika hari kiamat telah tiba, sedang kalau ada yang berkilah bahwa yang bangkit adalah ruhnya maka Al-Qur`an pun mendustakannya, karena Allah shallallahu alaihi wa sallam  berkata dalam kitab-Nya:
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.[2]
Ruh orang yang telah meninggal itu tetap, tidak berpindah-pindah pergi dan datang. Dan juga sangkaan tentang kehadiran Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dalam peringatan-peringatan tersebut merupakan bentuk kedustaan atas beliau, sedang Rasul shallallahu `alaihi wa sallam  berkata:
 
Sesungguhnya  kedustaan yang mengatas namakan aku tidak sama dengan kedustaan  terhadap yang lain, barangsiapa berdusta atas namaku maka hendaklah  dia mengambil tempat duduk di Neraka [3]
 
Adapun  berdiri untuk menghormati beliau shallallahu `alaihi wa sallam  –atas dasar sangkaan bahwasanya beliau hadir- ini merupakan kemungkaran  yang besar karena berdiri untuk menghormati adalah ibadah yang  tidak pantas dilakukan kecuali hanya untuk Allah subhanahu  wa ta`ala semata ketika dalam sholat, Allah subhanahu wa  ta’ala berkata:
 
Dan  hendaklah kalian berdiri (sholat) kepada Allah sebagai orang-orang  yang tunduk[4]
 
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam nyata-nyata telah melarang untuk  berdiri  dengan tujuan saling menghormati,
 
Barangsiapa yang suka kalau temannya menghormatinya dengan berdiri maka hendaklah mengambil tempat duduk dari neraka[5]

[1] Surah Az-Zumar, ayat 30 - 31
[2] Surah Az-Zumar, ayat 42
[3] Muttafaq ‘alaihi, hadits mutawatir lihat Fathul Bari (juz I hal. 23)
[4] Surat Al-Baqarah, ayat 238
[5] Hadits dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud dan At-Tirmidzi,  dengan sanad shahih lihat dalam As-Silsilah As-Shahihah  juz I, hal. 627 no. 357
Last Updated ( Monday, 13 October 2008 )